Big Data, Privasi, dan Terorisme

Belum lama ini isu tentang adanya sistem Big Data Cyber Security (polisi internet) sempat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan menghebohkan masyarakat. Pengaplikasian teknologi big data untuk keamanan seringnya dituding menjadi ancaman hak kebebasan berekspresi atau privasi yang merupakan bagian penting dari hak konstitusi warga pada sebuah sistem demokrasi. Walau berita ini telah diklarifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Oktober lalu, namun Sampai sejauh manakah sebenarnya kekhawatiran ini beralasan?

Kenyataannya kesadaran masyarakat mengenai privasi dalam menggunakan internet seringnya masih kurang. Tidak banyak yang mengetahui bahwa ketika seseorang mengakses suatu halaman situs tertentu, biasanya data seperti lokasi, lama kunjungan, halaman yang kita akses dan berbagai informasi lain dikumpulkan dan dianalisa oleh pemilik situs. Data ini digunakan untuk meningkatkan banyaknya kunjungan ke situs tersebut atau peningkatan mutu layanan. Tidak jarang data yang dikumpulkan tersebut juga digunakan oleh pihak ketiga yang bekerjasama dengan pemilik situs (misal pemasang iklan). Contoh lainnya, tidak banyak masyarakat yang memahami bahwa ketika sebuah media foto atau video yang diunggah oleh penggunanya ke media sosial, maka bisa jadi kepemilikan media tersebut tidak lagi di tangan pengunggah. Media yang telah diunggah biasanya sudah menjadi hak pemilik situs untuk dipergunakan sesuai dengan persyaratan yang biasanya diberikan dalam halaman kesepakatan privasi (privacy policy) atau ketentuan-perjanjian  (terms and agreement).

Lalu apakah pengumpulan data tersebut melanggar ketentuan tentang privasi? Selain beberapa undang-undang yang berlaku di Indonesia, pedoman aturan privasi terdapat pada Fair Information Practices (FIPs) yang digagas oleh Federal Trade Centre Amerika Serikat. Terdapat lima prinsip utama aturan privasi sebagaimana yang termaktub dalam FIPs, yaitu kesadaran, izin, akses, keamanan, dan batasan hukum. Secara umum berarti seorang pengguna harus memiliki kesadaran akan data apa yang dikumpulkan, memberikan izin akannya, memiliki akses terhadap data tersebut, terdapat upaya untuk mengamankan data yang diambil, dan adanya aturan atau hukum yang mengikat penyelenggara untuk mematuhi prinsip privasi.

Situs internet  dan media sosial biasanya sudah menjelaskan dengan cukup rinci tentang data apa yang mereka kumpulkan, peruntukan, keamanan, dan batasan penggunaan. Sehingga mayoritas sudah mengikuti aturan yang ada tentang privasi pengguna. Namun karena perjanjian ini biasanya cukup panjang dan menggunakan terminologi hukum yang cukup asing bagi masyarakat umum, kebanyakan pengguna biasanya setuju dengan perjanjian yang dibuat tanpa mengerti isinya dengan baik. Bahkan di banyak kasus, pengguna seakan tidak perduli dan sama sekali tidak membaca isi perjanjian tersebut. Dari fenomena ini ada kecenderungan, sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak terlalu menghawatirkan tentang privasinya dalam ber-internet.

Lalu bagaimana dengan penggunaan data untuk keamanan seperti memerangi terorisme atau kejahatan cyber?

2 thoughts on “Big Data, Privasi, dan Terorisme

  1. Assalamualaikum…pak sy ingin berdiskusi dengan bpk,..maaf oot pak,.. tidak berkaitan dengan big data,….jadi begini pak maaf curcol pak,…sya sangat menyukai matematika sejak smp, namun selama sekolah nilai saya di matematika tidak bagus, dan termasuk yg terburuk, salah satu penyebabnya sya belajar agak lambat karena sering mencari2 dari mana sebuah rumus itu berasal,…,karena sya sering merasa tidak mengerti kalo tidak tahu dari mana sebuah rumus itu berasal,sebelum saya pakai rumusnya…dan mencari2 penurunan cukup memakan waktu pak sehingga sya jadi kurang latihan mengerjakan soal, sementara disekolah kita diajarkan untuk berhitung tanpa memperdulikan dari mana rumus itu berasal,…apa cara belajar matematika sya seperti saya kurang bagus pak? karena kebetulan sya menemukan kalimat menarik diinternet seperti ini pak:

    “How many of us professional mathematicians aced our high school or college calculus exams but only understood what a derivative is after we had our Ph.D.s and found ourselves teaching the stuff?”

    ini selengkapnya pak https://www.maa.org/external_archive/devlin/devlin_03_06.html

    bagaimana menurut bapak? apa kita memang lebih baik kita menghapal prosedur dlu dan banyak2 mengerjakan soal/perhitungan sbelum memahami pak?

    • Pertanyaan yang sangat menarik … ^_^ … Saya mungkin bukan orang yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan ini, tapi insya Allah saya akan tanggapi menurut pengalaman saya saja ya :)

      Saya sebenarnya sedang menulis buku terkait hal ini, tapi sempat terhenti karena kesibukan penelitian.
      Menurut saya:
      [1]. Sebelum semakin bingung, Ahmad tentukan dulu tolak ukur/kriteria sukses menurut Ahmad.
      [2]. Saya sering menasihati anak² saya sendiri: Ndak usah hawatir dengan nilai, yang penting lulus juga ndak apa²… Taapiii… have passion, have determination … and pursue it!!!…
      [3]. Why? Ketika kita menyukai/mencintai sesuatu (atau bahkan seseorang :p ), maka setiap masalah adalah tantangan, dan kita tak akan pernah terhenti karenanya.
      Tapi ketika kita tidak menyukai sesuatu, kita akan berhenti walau orang lain mengatakan kita hebat di bidang tersebut atau hal tersebut baik untuk kita.

      Kesimpulannya bagaimana? Kembali ke No [1], tentukan & jalani Nomer [2], lalu jangan lupa berdoa, beribadah, dan meminta restu orang tua … ^_^ … (ora et labora)

      Kalaupun ada satu hal lagi … dalam hidup saya, saya belajar,…. semakin kita mendatangkan manfaat untuk orang lain, maka entah kenapa masalah dalam hidup kita menjadi semakin mudah untuk dihadapi …. Best of luck untuk Ahmad, semoga berhasil dan sukses seperti apa yang Ahmad cita²kan, Aamiin … ^_^

Leave a Reply